Magelang Mnews.Id – Selama berabad-abad, Candi Borobudur dipahami sebagai mahakarya
arsitektur dan spiritualitas Buddhis. Namun kini, sebuah temuan akademik terbaru membuka
perspektif yang jauh lebih kompleks dan mengejutkan: Borobudur juga menyimpan jejak permainan
papan kuno yang bukan sekadar hiburan, melainkan sistem pengetahuan, strategi, dan refleksi
filosofis tentang kehidupan manusia.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. M. Zaini Alif yang sampai tahun 2026 menemukan dan mendata
2600 jenis permainan rakyat Indonesia dan 1642 Boardgame atau mainan papan di berbagai negara,
mengungkap adanya representasi visual permainan dalam relief candi, lengkap dengan elemen-
elemen seperti pion, dadu, dan pola lintasan permainan. Temuan ini bukan hanya menambah lapisan
makna pada Borobudur yang dibangun pada abad VIII (778 M), tetapi juga berpotensi mengubah
cara dunia akademik memahami hubungan antara budaya, permainan, dan pendidikan di masa
lampau. Yang membuat penemuan ini begitu signifikan adalah kenyataan bahwa permainan tersebut
tidak berdiri sendiri. Secara komparatif, ia memiliki kemiripan dengan berbagai permainan kuno
dunia seperti Pachisi dari India 1100-800 SM, Senet dari Mesir 3500 SM, hingga Liubo dari
Tiongkok 202 SM-220 SM. Namun demikian, Borobudur menghadirkan sesuatu yang unik: sebuah
inovasi lokal Nusantara berupa papan permainan berbentuk jam pasir yang sarat dengan simbolisme
kosmologis dan spiritual.
Penelitian ini berangkat dari pengamatan detail terhadap relief di salah satu panel Borobudur yang
menunjukkan interaksi manusia dengan objek yang menyerupai permainan papan.
Dari situ, tim
melakukan analisis multidisipliner yang menggabungkan pendekatan arkeologi, ikonografi, sejarah
permainan, hingga rekonstruksi eksperimental. Karena tidak adanya naskah atau aturan tertulis yang
tersisa, proses ini menjadi tantangan ilmiah tersendiri yang menuntut ketelitian tinggi. Melalui
analisis morfologi, peneliti mengidentifikasi pola lintasan dan kemungkinan jumlah petak
permainan. Kajian ikonografis kemudian digunakan untuk membaca simbol-simbol di sekitar
adegan, termasuk kemungkinan makna sosial dan spiritual dari permainan tersebut. Selanjutnya,
komparasi dengan temuan permainan di berbagai peradaban kuno memperkuat hipotesis bahwa
permainan Borobudur merupakan bagian dari jaringan pertukaran budaya global yang terjadi melalui
jalur perdagangan dan penyebaran agama.
Namun yang paling menarik adalah hasil rekonstruksi eksperimental yang dilakukan tim.
Berdasarkan berbagai data tersebut, permainan ini direkonstruksi sebagai sebuah race and strategy
board game yang menggabungkan unsur strategi dan keberuntungan. Pemain menggunakan pion
dan dadu untuk bergerak sepanjang lintasan, dengan tujuan mencapai titik akhir sebagai simbol
“pencerahan”. Dalam prosesnya, terdapat mekanisme “menangkap” bidak lawan, zona sempit
sebagai fase ujian, serta dinamika permainan yang mencerminkan ketidakterdugaan hidup.
Permainan ini kemudian diberi nama konseptual “Lintasan Dharma”, “Borobudur Game”, atau
“Journey to Enlightenment” yang menggambarkan perjalanan manusia melalui berbagai fase
kehidupan menuju kesadaran tertinggi. Dalam konteks ini, permainan bukan hanya aktivitas
rekreatif, melainkan alat pedagogi yang mengajarkan nilai-nilai seperti kesabaran, strategi,
keseimbangan antara usaha dan takdir, serta refleksi moral.
Secara akademik, temuan ini membuka ruang diskusi baru dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam
arkeologi, ia memperluas pemahaman tentang fungsi relief sebagai media pengetahuan, bukan
sekadar narasi visual. Dalam studi budaya, ia menunjukkan bahwa permainan memiliki peran pentin
dalam membentuk nilai sosial dan spiritual masyarakat. Sementara dalam pendidikan, ia
menawarkan pendekatan baru dalam pembelajaran berbasis permainan yang berakar pada warisan
lokal. Lebih jauh lagi, penelitian ini tidak berhenti pada rekonstruksi historis. Salah satu tujuan
utamanya adalah mengadaptasi permainan ini ke dalam bentuk modern, baik sebagai board game
edukatif maupun sebagai platform digital interaktif. Dengan demikian, warisan budaya tidak hanya
dilestarikan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam konteks kekinian yang relevan dengan generasi
muda.
Inisiatif ini sejalan dengan upaya pelestarian warisan budaya takbenda Indonesia, yang menekankan
pentingnya menjaga tidak hanya bentuk fisik, tetapi juga nilai, fungsi, dan makna yang terkandung
di dalamnya. Dalam era digital saat ini, pendekatan seperti ini menjadi semakin penting untuk
memastikan bahwa budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga dialami dan dipahami secara aktif.
Penemuan ini juga mengundang perhatian internasional, Kelompok Kerja Warisan Budaya
Permainan di Leiden yang melakukan Penelitian berfokus pada permainan papan kuno di Asia dan
Mediterania, karena menunjukkan bahwa Nusantara memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah
permainan dunia. Selama ini, narasi global tentang permainan kuno sering didominasi oleh
peradaban besar seperti India, Mesir, dan Tiongkok. Namun Borobudur membuktikan bahwa Asia
Tenggara, khususnya Indonesia, juga memiliki tradisi permainan yang kompleks dan bermakna.
Lebih dari itu, temuan ini menantang kita untuk melihat kembali Borobudur dengan cara yang
berbeda. Ia bukan hanya situs wisata atau simbol religius, tetapi juga sebuah “arsip
pengetahuan” yang menyimpan berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari spiritualitas, seni,
hingga permainan dan strategi.
Dengan segala potensinya, penelitian ini membuka peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari
akademisi, pemerintah, industri kreatif, hingga media. Bersama-sama, kita dapat mengembangkan
narasi baru tentang Borobudur yang tidak hanya membanggakan secara historis, tetapi juga relevan
dan inspiratif bagi masa depan.